Ikut Survei LSI - Bagian 6

image

 

 

Jumat, 8 April 2011

          Pagi kembali berair tapi tidak selebat hari kemarin, namun cukup untuk membuat kami tetap berdiam dirumah Mas Susanto. Melihat kondisi bahwa misi survei akan dapat terselesaikan, maka kami memutuskan ini adalah hari terakhir kami di Pelepat Ilir, jenuh dan capek. Apalagi kalau telah menyangkut balas jasa yang akan kami terima, dari keterangan Marde kita dibayar Rp 35.000 per kuisioner. Marde juga bercerita bahwa sebelumnya dia juga ikutan survei ke Pesisir (atau Pariaman ya?), selama 5 hari dapat Rp 700.000, dimana kendaraan survei disediakan dan diberi uang jalan yang cukup, tidak seperti sekarang

          Sambil menunggu hujan reda Marde sempat bercerita bahwa beliau mendapatkan responden yang memiliki pekerjaan yang begitu berbahaya, terutama bagi seorang Marde, yaitu PAWANG ULAR. Marde kan phobia ular.

          Beginilah kira-kira ceritanya:

Marde (M)

:

Kerjanya apa mas?

Si Mas (S)

:

Waduh mas, kerja saya ada kalau ada yang buka lahan..

M

:

Maksudnya?

S

:

Ya..kalau ada yang buka lahan, saya diminta tolongin

M

:

Diminta tolongin apa mas?

S

:

Ya …biasanya pas buka lahan itu kita ketemu ular mas, ya saya yang nangkap

M

:

(terkejut) nangkap ular apa mas?

S

:

Ular biasa aja mas, paling-paling ular PITON

M

:

(Tuweuweuweu…Marde terbelalak, perutnya tiba-tiba mules) wah…(Marde agak tergagap, namun berhasil menenangkan diri)…berapa panjangnya Mas?

S

:

Wah…kecil mas, Cuma panjang 3 meter

M

:

(mak..panjang 3 meter apanya yang kecil mas?) lalu sehabis ditangkap disimpan dimana?

S

:

Ya..dimana lagi mas, kalau bukan di dalam rumah

M

:

(Heikk….Marde terasa tercekat, langsung saja melihat ke sekeliling rumah apakah ada ular yang lepas atau tidak)…

 

          Harga jual ular piton yang masih hidup bisa mencapai 1 juta per meternya. Beberapa waktu sebelumnya mereka mendapatkan ular sepanjang 9 meter yang kekenyangan setelah memakan seekor babai hutan, karena ularnya kekenyangan maka tidak dapat berbuat apa-apa. Warga sekitar mengambil kesempatan untuk berpoto dengan si ular. Karena yang dimakan adalah babai hutan yang cukup besar, maka ada bagian yang membengkak dari ular tersebut, diperkirakan itulah babai hutan tadi yang telah dilahap oleh si ular, karena ularnya tidak dapat bergerak, maka anak-anak duduk diatas perut ular tersebut, namun apa daya, ternyata perut si ular robek dan si ular mati. Hanya ular yang masih hidup yang bisa dijual, akhirnya uang 9 juta pun melayang.

Selain  menangkap ular, si mas juga menangkap tringgiling. Saat ditanya apakah tidak berbahaya? Beliau menjawab sampai saat ini belum ada yang mati karena menangkap ular, tapi kalau menangkap tringgiling sudah ada yang menjadi korban.

*****

          Rasanya ingin cepat pulang karena ada kelelahan hati yang melanda, belum lagi mengingat balas jasa yang akan kami terima setelah survei selesai. Oleh karena itu survei harus selesai hari ini, sehingga bisa cepat pulang. Lagipula juga segan sama Mas Susanto karena kami telah 3 hari 2 malam dirumah beliau, sesuai dengan sunnah rasul, cukup 3 hari kalau ingin menumpang di rumah orang.

          Karena celana panjang Yudha hanya satu (satu lagi tinggal di Solok), maka Yudha berinisiatif tuk meminjam celana si Mas, dan tidak perlu repot karena celananya telah ada di atas kasur. Mengingat ini hari Jumat, tentu lebih baik jika memakai pakaian yang bersih, kan mau sholat Jumat.

          Jam 9 kami betul-betul pamit, itu pun setelah jaket Rizqi Azmi diperbaiki oleh adik Si Mas (siapa ya namanya? Lupa) yang jago menjahit.

          Sebelum berpisah Marde meminta Yudha menemani beliau menyelesaikan surveinya, nanti pas sudah selesai gantian dia yang menemani Yudha. Agak berat untuk mengiyakan karena Yudha juga ingin cepat menyelesaikan survei, namun Yudha berpikir, mana tahu dengan menolong orang lain, kita mendapatkan kemudahan.

*****

          Tiba-tiba Yudha berpikir bahwa menemani Marde adalah sebuah kesalahan, hahaha…lemes Yudha menyaksikan Marde mewawancarai responden dengan aksen Jawa, bikin ngantuk, walaupun sebenarnya beliau  mewawancarai responden dengan cepat.

          Ketemu juga responden yang baru berumur 19 tahun dengan penghasilan 1,5 juta sebulan, wah…itu hanya dari hasil menyadap karet, maka Marde pun berkata, ingin kaya, jadi pengusaha lebih baik.

          Mengingat sekarang adalah hari Jumat maka wawancara harus sudah kelar hari ini juga, dan ternyata wawancara Marde belum juga menjelang sholat Jumat.

          Agak risih juga pas shalat Jumat disana, kalau mengenai adzan 2 kali sih udah biasa, tapi doa sebelum adzan ni yang membuat Marde tak nyaman, doanya panjang banget. Terus ada seromonial penyerahan sejenis tongkat dari Muadzin ke Khatib saat khatib naik mimbar. Selain itu khatib berkhotbah sambil membawa catatan kothbah, hal tersebut itu wajar tapi gaya khotbahnya terutama dalam pembacaan ayat seperti mengeja tulisan. Sepertinya hal ini harus diperbaiki, kayaknya perlu impor ustad juga kesini…hehehe… namun setidaknya para jamaah hening dan tenang, tafakur mendengarkan kotbah.

*****

          Survei Marde akhirnya selesai walaupun dengan waktu molor dari rencana awal, yaitu kelar sebelum sholat Jumat.

          Beralih ke survei Yudha, dari 5 RT yang dipilih tinggal 2 Ketua RT lagi yang belum dikunjungi, yaitu RT 5 dan RT 8, untung saja rumah ketua RT ini sudah Yudha ketahui sebelumnya, jadi setidaknya menghemat waktu pencarian.

          RT 8 adalah RT pertama yang Yudha kunjungi, ternyata pak RTnya sudah berpengalaman dalam soal survei mensurvei ini, sehingga beliau menawarkan warga yang akan dipilih untuk diwawancarai, tentu saja Yudha menolak karena responden harus diacak.

          RT 8 adalah RT yang susah dicari warganya , Yudha sampai harus mengacak beberapa kali untuk mendapatkan responden, dan akhirnya baru dapat 1. Dari pada membuang waktu, Yudha pun memilih untuk mendatangan RT yang lain.

          RT 5 adalah RT yang cukup rumit karena bu RTnya sempat tidak mau memberikan data warganya karena takut terjadi apa-apa. Mungkin cara Yudha yang membuat bu RT tidak nyaman, untung ada Marde yang menjelaskan. Mungkin ini efek kejengkelan karena waktu yang Yudha luangkan untuk Marde, sehingga Yudha merasa berada dalam tekanan karena waktu yang semakin mepet.

          “Nggak usah marah-marah Yud, tapi ikhlas” begitu kata Marde yang dapat segera menangkap resah yang Yudha alami, lalu Yudha jawab:

          “Yudha ikhlas, tapi Yudha jengkel juga, kan manuasiawi tu” (hahha..adakah ikhlas yang jengkel?)

          Pengalaman mewawancarai hari kedua ini sangat beragam, mulai dari respon sinis keluarga responden tentang pilkada, responden yang menjawab tidak tahu akan memilih siapa jika pemilihan dilaksanakan hari ini (ini karena respondenya lebih cerdas, tamatan  STM), responden yang lancar menjawab dan paham politik (respondennya tamat SMA, sekaligus kami dikasih minum teh susu), sampai responden yang memiliki harapan walaupun beda pilihan, kita harus tetap akur.

          Akhirnya survei bagian Yudha selesai saat adzan isya berkumandang, karena kami telah menjama’ sholat, ya kami tentu tidak sholat isya lagi.

*****

          Sekarang hanya tinggal Rizqi Azmi yang belum selesai, agak jengkel juga menunggu beliau di Padang Palangeh karena saat ditelpon jawabannya adalah akan segera kesana, akan segera kesana, tapi sudah setengah jam tidak muncul juga, padahal jarak antara Padang Palangeh dengan Kantor Camat bisa ditempuh 15 menit.

          Tidak tahan dengan semua itu, Marde berinisiatif untuk menyusul ke Kantor Camat, karena khawatir Rizqi Azmi enggan melewati kebun karet yang sepi sendirian.

          Tapi itu bukanlah ide yang baik, karena ketika kami berada ditengah  kebun karet dengan kecepatan yang tinggi Rizqi Azmi menelpon Yudha bahwa beliau telah sampai di Padang Palangeh (telpon Yudha angkat sambil mengendarai motor..berbahaya), waduh…gimana ni? Jarak Yudha dengan Marde ada kira-kira 100 meter (Yudha dibelakang Marde), Yudha klason dan beri lampu isyarat tidak dihiraukan,

           Akhirnya Yudha memilih tuk berhenti di tengah kebun karet yang sepi dan jarak dengan Marde pun telah jauh, bahkan lampu motornya pun sudah tidak kelihatan lagi. Tiba-tiba prangkkkk…… hp Yudha terjatuh dari saku celana yang Yudha pinjam dari si Mas. Tidaaaakkkk…

          Suasana saat itu sepi dan gelap, pasrah deh, yang penting hp harus diselamatkan, gimana mau mencarinya gelap begini?, Yudha berbalik arah dan menyinari jalan yang tadi Yudha lewati, Alhamdulillah ketemu, hp tergores (hiks…hiks) tapi tidak ada luka yang serius, kamera aman dan masih bisa hidup, sinyal masih bisa di deteksi, tapi…cover belakangnya mana?.huaaaahhh….hilang….sedih Yudha.

          Tiba-tiba ada sinar putih datang dengan cepat dari belakang, tengkuk Yudha dingin, ada aroma yang tidak enak mulai tercium, keringat dingin keluar…apakah ini alam ghaib? Ada suara samar-samar yang memanggil, waktu terasa berhenti berputar, dada terasa sesak, motor tidak mau bergerak sama sekali karena motor memang Yudha rem. Cahaya itu semakin terang dan …

          “Ngapain berenti Yud?” Marde bertanya, lalu Yudha jawab hp Yudha jatuh dan mengatakan bahwa Rizqi Azmi sudah di Padang Palangeh.

*****

          Setelah kami bertiga berkumpul di Padang Palangeh, malam itu juga sekitar jam 9 malam kami berangkat menuju Bungo. Kami harus melewati daerah yang namanya Rimbo Bujang, daerah kebun karet yang sepi, tapi untung saja jalannya bagus, aspal beton.

          Kira-kira 1 jam kami berada dalam perjalanan menuju Bungo dengan kondisi belum makan. Kami tiba di Bungo (lebih tepatnya tempat si Mas) sekitar jam 10an, untung saja si Mas telah mempersiapkan tempat VIP buat kami, kamar VIP dengan luas 2,5 X 3 meter beralaskan karpet.

          Selesai meletakkan barang, kami pamit sebentar tuk cari makan. Kami keliling pasar Bungo mencari tempat makan, Rizqi Azmi banyak ulah, yang ndak mau inilah, itulah sampai akhirnya kami menemukan sebuah ampera. Pas di ampera eh malah beliau tidak mau makan karena sudah makan ditawari oleh respondennya (kebetulan responden terakhir adalah urang awak). Ngapain juga kami menuruti kemauannya kalau dia tidak mau makan.

          Ketika makan malam itu kami sadar bahwa kalau dipikir-pikir isi kuisioner ini seperti diarahkan untuk memilih salah satu kandidat. Kenapa? Karena ada sekitar 6 pertanyaan yang berbunyi: seandainya pemilihan dilaksanakan pada hari ini, mana yang bapak/ibu pilih dari nama-nama berikut? Ada 3 pilihan sampai 2 pilihan, tapi pada setiap pertanyaan ada satu pasang calon yang selalu muncul dalam setiap pilihan. Kami menduga ini adalah kerjaan partai pengusung pasangan tersebut, dan ternyata memang pasangan ini yang menang.

          Selesai makan kami pulang, karena badan terasa berkeringat maka Yudha memilih tuk mandi dan seperti sebelumnya, Marde dan Rizqi Azmi memilih tuk langsung tidur.

Sebelumnya                                                                                       bersambung  

 

 

Thu, 12 May 2011 @10:03


4 Komentar
image

Fri, 13 May 2011 @15:47

kakmarde

kerennn...tambah penasaran kelanjutannya, untung nggak ada yang marah yud,ketawa2 sendiri soalnya...hahahahha...

image

Fri, 13 May 2011 @23:34

Dwi Yudha Hady Putra

ngetiknya tu yang agak susah yudha...kadang2 inspirasinya tu pas mau tidur baru muncul

image

Fri, 10 Jun 2011 @19:27

agus muhar

lutcu ya
bg banyak yg terkesan kayaknya, semga menjadi kenangan terindah saja bagi keturunannya kelak

image

Sat, 11 Jun 2011 @10:37

Dwi Yudha Hady Putra

Aamiin Gus...


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 2+8+8

Selamat Datang
image

yudhakids


Herbalife Independen Member
Your Pesonal Wellness coach
Dumai :) Ceria
Jl Bintan No 12, Dumai Riau
Kak Marde

 

Kakmarde's Blog

JUST ANOTHER WORDPRESS.COM SITE

 

Komentar Terbaru
Copyright © 2018 yudhakids · All Rights Reserved